Pak Bupati, Ayo Orbitkan Inventor Cilik!
Oleh Muhibuddin
Namannya Hanum Dzatirrajwa dan Izza Aulia Putri
Purwanto. Dua pelajar SD (Sekolah Dasar) dari Jawa Tengah ini mampu
membuat media bermain bagi anak tunanetra
melalui karyanya berjudul Snake and
Ladder for Blind Children. Temuan dua inventor cilik ini berhasil menyabet
medali perak kategori education and recreation,
serta special award dari official technopol Moscow Rusia. Penghargaan
itu diperoleh dalam ajang International
Exhibition for Young Inventors (IEYI) 2017 yang berlangsung di Jepang pada
25 - 31 Juli 2017 (kompas.com, 1/8).
IEYI merupakan ajang kompetisi internasional di bidang inovasi teknologi tepat guna. Selain Indonesia, 14 negara, termasuk China, Taiwan, India, Italia, Jepang, Filipina, dan Rusia, juga ikut ambil bagian dalam kompetisi kali ini. Karena itu, kalau akhirnya pelajar Indonesia mampu membawa pulang medali dan penghargaan, itu jelas prestasi luar biasa. Tak berlebihan jika inventor-inventor yang berlaga dalam kompetisi internasional itu mendapatkan predikat pelajar hebat.
Secara kuantitas, tampaknya belum banyak pelajar --khususnya jenjang SD-- yang mampu berinovasi di bidang teknologi tepat guna. Apalagi, temuan inovatifnya mampu menembus ajang kompetisi level internasional. Namun, itu bukan berarti pelajar SD di negeri ini tidak memiliki kompetensi menjadi inventor. Percayalah, bibit-bibit inventor cilik sejatinya banyak bertebaran di pelosok tanah air. Hanya, potensi mereka kemungkinan belum tersentuh sehingga mereka tak tergoda menemukan dan membuat karya inovatif.
Terfokus
Kejar Ranah Kognitif
Pertanyaannya, mengapa pelajar di jenjang
SD belum begitu banyak yang menemukan dan mengorbitkan karya-karya inovatif ? Faktor
usia dan perkembangan psikologis mereka tentu tak bisa dijadikan argumen pembenar
minimnya inventor-inventor cilik dari jenjang SD. Faktanya, meski masih duduk
di bangku SD, ternyata di antara mereka ada yang mampu membuat karya inovatif dan
akhirnya meraih penghargaan level internasional sebagaimana yang dilakukan Hanum
Dzatirrajwa dan Izza Aulia Putri Purwanto di atas. Ini artinya, anak SD pun
mampu menjadi sang inventor.
Jika kini pelajar SD yang kurang begitu concern untuk menelorkan temuan-temuan
inovatif di bidang rekayasa teknologi tepat guna, itu tentu ada pemicunya. Pertama, dalam kegiatan pembelajaran di
sekolah, anak-anak itu lebih memfokuskan orientasinya untuk mengejar tujuan
pembelajaran ranah kognitif. Akibatnya, muara dari segala aktifitas belajar
anak akhirnya hanya untuk kepentingan meraih angka-angka kuantitatif yang gemilang
dalam berbagai jenis ulangan dan ujian.
Itu tidak salah. Sebab, diakui atau tidak,
angka-angka gemilang dalam penguasaan ranah kognitif, selama ini masih
dijadikan indikator utama untuk mengukur keberhasilan sebuah proses
pembelajaran yang dilakukan peserta didik. Bahkan, kualitas pendidikan di
sebuah lembaga sekolah pun masih kerap diukur indikasinya berdasarkan raihan
angka-angka kualitatif ranah kognitif tersebut. Maka, kalau kemudian para
pelajar kurang “bergairah” menggeluti dunia ilmiah yang bisa mengantarkan
mereka menjadi sang inventor, itu merupakan imbas dari pengkondisian
pembelajaran yang selama ini cenderung cognitif
oriented.
Kedua, kurangnya geliat anak
SD dalam menelorkan karya inovatif, jujur saja, ini merupakan imbas dari performance guru yang terlalu memosisikan
perannya sebagai pengajar. Sementara, peran guru sebagai pendidik jadi
terabaikan. Yang terjadi kemudian, proses pembelajaran dimaknai sekedar
menstransfer konten kurikulum kepada peserta didik. Menurut Rhenald Kasali (2007),
guru semacam ini disebut dengan guru kurikulum. Yaitu, sosok guru yang mengajar
semata-mata hanya untuk memenuhi tuntutan kurikulum.
Implikasinya, guru cenderung abai terhadap
beragamnya potensi peserta didik. Mereka tak banyak memberikan inspirasi maupun
sentuhan pedagogis kepada anak didiknya. Maka, jangan kaget jika bibit-bibit inventor
yang potensial, akhirnya tetap “terlelap” di bangku ruang kelas lantaran
terlalu asyik duduk manis melahap konten pelajaran tuntutan kurikulum yang
disampaikan para gurunya.
Ketiga, pelajar SD belum
banyak menelorkan karya inovatif karena kurangya pengkondisian yang dilakukan
institusi satuan pendidikan maupun pemegang otoritas yang ada di Pemda
(Pemerintah Daerah). Selama ini, satuan pendidikan maupun pemegang otoritas di
Pemda memang sudah banyak bergerak dalam mengkondisikan para pelajar di ajang kompetisi-kompetisi
yang sudah populer semacam OSN (Olimpiade Siswa Nasional), O2SN (Olimpiade Olah
Raga Siswa Nasional), maupun FLS2N ( Festifal dan Lomba Seni Siswa Nasional)
dan sejenisnya.
Namun, jujur harus diakui, untuk
mengorbitkan anak-anak SD yang berpotensi di bidang karya inovatif, tampaknya
pengkondisian yang dilakukan satuan pendidikan maupun pemegang otoritas di
daerah belum seintensif kompetisi-kompetisi yang sudah populer tersebut. Jika
demikian halnya, maka sangat wajar kalau pelajar-pelajar SD kurang menggeliat
dalam menelorkan karya-karya inovatif. Sebab, mereka memang kurang diinspirasi
menggali ide-ide, tidak dibiasakan bereksperimen dan tidak digembleng untuk membuat temuan-temuan inovatif.
Pak Bupati....Pak
Wali.....Ayo Diorbitkan!
Jika sepakat bibit-bibit inventor cilik
dari sekolah dasar banyak bertebaran di berbagai pelosok negeri, ayolah mereka
diorbitkan. Jangan biarkan pelajar-pelajar SD yang berpotensi menjadi sang inventor
terus tiarap di bangku-bangku sekolah. Dalam konteks ini, tentu, para gurulah
yang paling berperan di garda depan untuk mengorbitkan potensi anak-anak
tersebut. Inventor-inventor cilik dipastikan tak bakal menggeliat jika
guru-guru masih menampilkan sosok tradisionalnya sebagai guru kurikulum.
Sebaliknya, di sini diperlukan kehadiran
sosok guru yang memiliki orientasi pedagogis dalam mengembangkan potensi
peserta didik. Guru yang demikian, menurut Rhenald Kasali, dikategorikan
sebagai guru inspiratif. Yaitu, guru yang tidak hanya mengejar tuntutan
kurikulum, tetapi juga mengajak peserta didik berfikir kreatif (maximum tihinking).
Dalam bahasa Kurikulum 2013, guru demikian
adalah sosok yang mampu mengintegrasikan ketrampilan abad 21 yang populer dengan
istilah 4 C (Creative, Critical thinking,
Communicative, Collaborative) serta mengintegrasikan HOTS (Higher Order of
Thinking Skill). Yaitu, kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif,
metakognitif dan berpikir kreatif yang merupakan kemampuan berpikir tingkat
tinggi. So, jika performance guru-guru
sudah demikian, bukan mustahil inventor-inventor cilik yang semula
masih “terlelap” bakal bermunculan dari berbagai SD yang ada di penjuru negeri
ini.
Selain para guru yang ada di garda depan,
pemegang otoritas di daerah juga berperan sangat urgen dalam menggairahkan
kemunculan inventor-inventor cilik dari jenjang SD. “Pak bupati...Pak
walikota...ayolah inventor cilik diorbitkan! Banyak lho...anak-anak SD yang
berpotensi menjadi inventor.”
Selama ini, sudah banyak bupati/walikota
di berbagai penjuru daerah yang punya kepedulian luar biasa terhadap
pengembangan pendidikan. Lihatlah, betapa banyak bupati maupun walikota yang
menggratiskan biaya pendidikan untuk peserta didik. Tak sedikit bupati atau
walikota yang memberikan secara cuma-cuma seragam sekolah hingga
menggelontorkan aneka fasilitas pendidikan yang diperlukan peserta didik.
Upaya positif ini tentu akan lebih
elegan lagi manakala diperluas pada ranah pengembangan potensi kualitatif anak
didik. Salah satunya adalah “memoles” anak-anak di jenjang sekolah dasar yang
punya potensi untuk diorbitkan menjadi inventor cilik. Ini tentu membutuhkan
sentuhan khusus. Karena itu, sudah selayaknya bupati/walikota “turun gunung”
ikut membesarkan bibit-bibit inventor yang ada di daerahnya.
Caranya tentu sangat banyak. Di
antaranya, memberikan semacam pelatihan maupun workshop membuat karya inovatif untuk anak-anak SD bekerjasama
dengan ahli-ahli dari perguruan tinggi maupun LIPI (lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia) yang selama ini banyak mengorbitkan inventor-inventor remaja.
Kegiatan ini bisa disentralkan dalam satu wadah di level kabupaten/kota. Atau,
bisa pula dibikin gugus-gugus di beberapa wilayah kecamatan yang dijadikan
sentral kegiatan karya inovatif siswa.
Pelatihan ini kemudian ditindaklanjuti
dengan menggelar kompetisi karya inovatif yang sifatnya berjenjang dari tingkat
satuan pendidikan hingga tingkat kabupaten/kota. Dari sisi anggaran, kegiatan
semacam ini barangkali tidak terlalu menyedot duit yang besar. Jika para
bupati/walikota memang mempunyai komitmen yang tinggi, hal itu bukanlah perkara
yang rumit. Mungkin, ini memang terlalu teknis dijadikan kebijakan seorang
kepala daerah.
Tak apalah jika upaya
ini dinilai tidak populis. Tapi, dalam jangka panjang, kebijakan teknis semacam
ini merupakan investasi. Ya, investasi mengorbitkan inventor-inventor cilik. Ini bagian dari strategi dan upaya untuk
meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya di jenjang pendidikan SD. Siapa
tahu, dengan strategi yang demikian bakal muncul “one school one inventor”, Jika ini yang terjadi, imbasnya jelas sangat
positif dalam mendongkrak kualitas pendidikan. Semoga!