Jumat, 20 Oktober 2017

CATATAN PENDIDIKAN



Pak Bupati, Ayo Orbitkan Inventor Cilik!
Oleh Muhibuddin

Namannya   Hanum Dzatirrajwa dan Izza Aulia Putri Purwanto. Dua pelajar SD (Sekolah Dasar) dari Jawa Tengah  ini  mampu membuat media bermain bagi anak tunanetra  melalui karyanya berjudul Snake and Ladder for Blind Children. Temuan dua inventor cilik ini berhasil menyabet medali perak kategori education and recreation, serta special award dari official technopol Moscow Rusia. Penghargaan itu diperoleh dalam ajang International Exhibition for Young Inventors (IEYI) 2017 yang berlangsung di Jepang pada 25 - 31 Juli 2017 (kompas.com, 1/8).

IEYI merupakan ajang kompetisi internasional di bidang inovasi teknologi tepat guna. Selain Indonesia, 14 negara, termasuk China, Taiwan, India, Italia, Jepang, Filipina, dan Rusia, juga ikut ambil bagian dalam kompetisi kali ini. Karena itu, kalau akhirnya pelajar Indonesia mampu membawa pulang medali dan penghargaan, itu jelas prestasi luar biasa. Tak berlebihan jika inventor-inventor yang berlaga dalam kompetisi internasional itu mendapatkan predikat pelajar hebat.

Secara kuantitas, tampaknya belum banyak pelajar --khususnya jenjang SD-- yang mampu berinovasi di bidang teknologi tepat guna. Apalagi, temuan inovatifnya mampu menembus ajang kompetisi level internasional. Namun, itu bukan berarti pelajar SD di negeri ini tidak memiliki kompetensi menjadi inventor. Percayalah, bibit-bibit inventor cilik sejatinya banyak bertebaran di pelosok tanah air. Hanya, potensi mereka kemungkinan belum tersentuh sehingga mereka tak tergoda menemukan dan membuat karya inovatif.

Terfokus Kejar Ranah Kognitif

Pertanyaannya, mengapa pelajar di jenjang SD belum begitu banyak yang menemukan dan mengorbitkan karya-karya inovatif ? Faktor usia dan perkembangan psikologis mereka tentu tak bisa dijadikan argumen pembenar minimnya inventor-inventor cilik dari jenjang SD. Faktanya, meski masih duduk di bangku SD, ternyata di antara mereka ada yang mampu membuat karya inovatif dan akhirnya meraih penghargaan level internasional sebagaimana yang dilakukan Hanum Dzatirrajwa dan Izza Aulia Putri Purwanto di atas. Ini artinya, anak SD pun mampu menjadi sang inventor.

Jika kini pelajar SD yang kurang begitu concern untuk menelorkan temuan-temuan inovatif di bidang rekayasa teknologi tepat guna, itu tentu ada pemicunya. Pertama, dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, anak-anak itu lebih memfokuskan orientasinya untuk mengejar tujuan pembelajaran ranah kognitif. Akibatnya, muara dari segala aktifitas belajar anak akhirnya hanya untuk kepentingan meraih angka-angka kuantitatif yang gemilang dalam berbagai jenis ulangan dan ujian.

Itu tidak salah. Sebab, diakui atau tidak, angka-angka gemilang dalam penguasaan ranah kognitif, selama ini masih dijadikan indikator utama untuk mengukur keberhasilan sebuah proses pembelajaran yang dilakukan peserta didik. Bahkan, kualitas pendidikan di sebuah lembaga sekolah pun masih kerap diukur indikasinya berdasarkan raihan angka-angka kualitatif ranah kognitif tersebut. Maka, kalau kemudian para pelajar kurang “bergairah” menggeluti dunia ilmiah yang bisa mengantarkan mereka menjadi sang inventor, itu merupakan imbas dari pengkondisian pembelajaran yang selama ini cenderung cognitif oriented.

Kedua, kurangnya geliat anak SD dalam menelorkan karya inovatif, jujur saja, ini merupakan imbas dari performance guru yang terlalu memosisikan perannya sebagai pengajar. Sementara, peran guru sebagai pendidik jadi terabaikan. Yang terjadi kemudian, proses pembelajaran dimaknai sekedar menstransfer konten kurikulum kepada peserta didik. Menurut Rhenald Kasali (2007), guru semacam ini disebut dengan guru kurikulum. Yaitu, sosok guru yang mengajar semata-mata hanya untuk memenuhi tuntutan kurikulum.

Implikasinya, guru cenderung abai terhadap beragamnya potensi peserta didik. Mereka tak banyak memberikan inspirasi maupun sentuhan pedagogis kepada anak didiknya. Maka, jangan kaget jika bibit-bibit inventor yang potensial, akhirnya tetap “terlelap” di bangku ruang kelas lantaran terlalu asyik duduk manis melahap konten pelajaran tuntutan kurikulum yang disampaikan para gurunya.

Ketiga, pelajar SD belum banyak menelorkan karya inovatif karena kurangya pengkondisian yang dilakukan institusi satuan pendidikan maupun pemegang otoritas yang ada di Pemda (Pemerintah Daerah). Selama ini, satuan pendidikan maupun pemegang otoritas di Pemda memang sudah banyak bergerak dalam mengkondisikan para pelajar di ajang kompetisi-kompetisi yang sudah populer semacam OSN (Olimpiade Siswa Nasional), O2SN (Olimpiade Olah Raga Siswa Nasional), maupun FLS2N ( Festifal dan Lomba Seni Siswa Nasional) dan sejenisnya.

Namun, jujur harus diakui, untuk mengorbitkan anak-anak SD yang berpotensi di bidang karya inovatif, tampaknya pengkondisian yang dilakukan satuan pendidikan maupun pemegang otoritas di daerah belum seintensif kompetisi-kompetisi yang sudah populer tersebut. Jika demikian halnya, maka sangat wajar kalau pelajar-pelajar SD kurang menggeliat dalam menelorkan karya-karya inovatif. Sebab, mereka memang kurang diinspirasi menggali ide-ide, tidak dibiasakan bereksperimen dan tidak digembleng untuk membuat temuan-temuan inovatif.

Pak Bupati....Pak Wali.....Ayo Diorbitkan!

Jika sepakat bibit-bibit inventor cilik dari sekolah dasar banyak bertebaran di berbagai pelosok negeri, ayolah mereka diorbitkan. Jangan biarkan pelajar-pelajar SD yang berpotensi menjadi sang inventor terus tiarap di bangku-bangku sekolah. Dalam konteks ini, tentu, para gurulah yang paling berperan di garda depan untuk mengorbitkan potensi anak-anak tersebut. Inventor-inventor cilik dipastikan tak bakal menggeliat jika guru-guru masih menampilkan sosok tradisionalnya sebagai guru kurikulum.

Sebaliknya, di sini diperlukan kehadiran sosok guru yang memiliki orientasi pedagogis dalam mengembangkan potensi peserta didik. Guru yang demikian, menurut Rhenald Kasali, dikategorikan sebagai guru inspiratif. Yaitu, guru yang tidak hanya mengejar tuntutan kurikulum, tetapi juga mengajak peserta didik berfikir kreatif (maximum tihinking).

Dalam bahasa Kurikulum 2013, guru demikian adalah sosok yang mampu mengintegrasikan ketrampilan abad 21 yang populer dengan istilah 4 C (Creative, Critical thinking, Communicative, Collaborative) serta mengintegrasikan HOTS (Higher Order of Thinking Skill). Yaitu, kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif dan berpikir kreatif yang merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. So, jika performance guru-guru sudah demikian, bukan mustahil inventor-inventor cilik yang semula masih “terlelap” bakal bermunculan dari berbagai SD yang ada di penjuru negeri ini.

Selain para guru yang ada di garda depan, pemegang otoritas di daerah juga berperan sangat urgen dalam menggairahkan kemunculan inventor-inventor cilik dari jenjang SD. “Pak bupati...Pak walikota...ayolah inventor cilik diorbitkan! Banyak lho...anak-anak SD yang berpotensi menjadi inventor.”

Selama ini, sudah banyak bupati/walikota di berbagai penjuru daerah yang punya kepedulian luar biasa terhadap pengembangan pendidikan. Lihatlah, betapa banyak bupati maupun walikota yang menggratiskan biaya pendidikan untuk peserta didik. Tak sedikit bupati atau walikota yang memberikan secara cuma-cuma seragam sekolah hingga menggelontorkan aneka fasilitas pendidikan yang diperlukan peserta didik.

Upaya positif ini tentu akan lebih elegan lagi manakala diperluas pada ranah pengembangan potensi kualitatif anak didik. Salah satunya adalah “memoles” anak-anak di jenjang sekolah dasar yang punya potensi untuk diorbitkan menjadi inventor cilik. Ini tentu membutuhkan sentuhan khusus. Karena itu, sudah selayaknya bupati/walikota “turun gunung” ikut membesarkan bibit-bibit inventor yang ada di daerahnya.

Caranya tentu sangat banyak. Di antaranya, memberikan semacam pelatihan maupun workshop membuat karya inovatif untuk anak-anak SD bekerjasama dengan ahli-ahli dari perguruan tinggi maupun LIPI (lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) yang selama ini banyak mengorbitkan inventor-inventor remaja. Kegiatan ini bisa disentralkan dalam satu wadah di level kabupaten/kota. Atau, bisa pula dibikin gugus-gugus di beberapa wilayah kecamatan yang dijadikan sentral kegiatan karya inovatif siswa.

Pelatihan ini kemudian ditindaklanjuti dengan menggelar kompetisi karya inovatif yang sifatnya berjenjang dari tingkat satuan pendidikan hingga tingkat kabupaten/kota. Dari sisi anggaran, kegiatan semacam ini barangkali tidak terlalu menyedot duit yang besar. Jika para bupati/walikota memang mempunyai komitmen yang tinggi, hal itu bukanlah perkara yang rumit. Mungkin, ini memang terlalu teknis dijadikan kebijakan seorang kepala daerah.

Tak apalah jika upaya ini dinilai tidak populis. Tapi, dalam jangka panjang, kebijakan teknis semacam ini merupakan investasi. Ya, investasi mengorbitkan inventor-inventor cilik.  Ini bagian dari strategi dan upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya di jenjang pendidikan SD. Siapa tahu, dengan strategi yang demikian bakal muncul “one school one inventor”, Jika ini yang terjadi, imbasnya jelas sangat positif dalam mendongkrak kualitas pendidikan. Semoga!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar