Minggu, 13 September 2020

CERPEN

 

Emoticon Jempol Tiga

Oleh : Muhibuddin

 

Cahaya sinar matahari  mulai menyorot ke dalam rumah. Lewat jendela dan lubang-lubang dinding. Sorot sinarnya memancar indah. Terlihat alami. Menggantikan terangnya cahaya listrik.  Di halaman rumah, ayam-ayam  piaraan sudah berkeliaran. Kakinya mencakari tanah. Paruhnya memangsa  rerumputan yang masih terbasahi embun.  Di jalan aspal depan rumah, lalu lalang kendaraan bermotor  sudah ramai berseliweran.

Namun, Ridwan masih saja betah berada dalam rumah. Mengenakan kaos yang dipakai saat tidur semalam,  dia duduk sendirian. Di atas karpet. Depan pesawat TV bertabung besar. Tangannya sibuk memenceti tombol HP. Nggak tahu. Dia lagi main game atau membuka layar  youtube. Atau, bisa jadi, bocah itu lagi mengintip tugas sekolah. Tugas daring dari Sang Guru yang dikirim lewat group Whatsapp .

Sesekali, matanya menengok ke arah jam dinding. Jarum panjang berada di angka enam. Sedang jarum pendek persis di antara angka delapan dan sembilan. Bergegas, Ridwan mengambil buku tulis, penghapus dan pensil yang panjangnya tinggal sepuluh centimeter.  Gak pake’ lama, dia kembali duduk. HP-nya ditaruh disampingnya. Ganti menonton TV. Mengikuti belajar daring. Kebiasaan baru anak sekolah di masa Pendemi COVID-19.

“Nah, adek-adek sekarang waktunya menjawab pertanyaan. Siap-siap mencatat ya? Nanti jawablah pertanyaan ini sebagai tugas di rumah. Kerjakan pertanyaan dengan bimbingan guru atau orang tuamu,” begitu suara merdu wanita pemandu acara di TV. Meminta anak-anak yang sedang menonton mencatat tugas belajar di rumah.

Mendengar itu, Ridwan tertegun sedih. Ini nggak biasanya, lho!!!. Asal tahu saja, selama tiga bulan belajar online dari rumah lewat tayangan TV, dia selalu riang. Nggak pernah mengeluh. Nggak pernah menggerutu. Bahkan, tugas-tugas belajar jarak jauh selama masa pandemi,  semuanya diselesaikan dengan cepat dan lancar. Tak ada keluhan sama sekali. Kecuali sesekali mengeluhkan borosnya paket data internet.

Tapi hari ini keadaannya benar-benar berbeda. Berbalik seratus delapan puluh derajat. Raut wajahnya menyiratkan kepedihan. Gairah belajarnya ambyar. Tidak fokus. Sampai-sampai, dia nggak sadar ketika pensil yang ada di jepitan jari tangannya lepas. Klothak!!! Pensil yang ujung rautannya sudah bundel itu jatuh di porselin. Pensil itu dibiarkan menggelinding. Tidak segera diambil kembali.

“Kalau saja...ya kalau saja ibuku masih hidup...aku tak akan menjalani belajar dari rumah kayak gini. Ibuku pasti menemani sampai aku selesai belajar. Kayak yang dialami teman-temanku. Mereka menyetorkan tugas sekolah disertai fotonya bareng ibu atau ayahnya. Sedangakan aku....,” begitu gejolak batin Ridwan.

Tanpa sadar, air mata Ridwan menetes membasahi pipi. Kepedihannya semakin bertambah ketika pemandu acara belajar daring di TV kembali menyampaikan tugas. “Kerjakan pertanyaan ini sebagai tugas belajarmu. Jangan lupa minta bimbingan orang tuamu,” lagi-lagi pemandu acara belajar daring di TV menyarankan anak-anak meminta bantuan orang tuanya.

Spontan, kepedihan Ridwan kian menjadi-jadi. Dia tak kuasa membendung air matanya. Menangis sesenggukan seorang diri. Pikirannya teringat kehangatan Sang Ibu kala masih hidup bersamanya. Di saat Pandemi COVID-19 yang mengharuskan setiap orang menjalankan protokol DI RUMAH SAJA, dia sama sekali nggak bisa merasakan kegiatan di rumah bersama ibu dan ayahnya.

“ Huk...huk...huk...,” Ridwan menangis pilu teringat bunda tercintanya.

Ya, sejak tiga tahun lalu, Ridwan yang kini duduk di kelas 5 SD, memang ditinggal ibunya untuk selama-lamanya. Ibunya meninggal dunia karena sakit. Sejak itu, bocah berperawakan kerempeng ini sehari-hari hidup bersama kakak laki-lakinya. Kakaknya juga masih belum dewasa. Baru naik kelas 2 SMA. Sedangkan Sang Ayah, saat ini tengah merantau. Mengadu nasib menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di negeri Jiran, Malaysia.

Ketika masih hidup, ibunya begitu dekat dan akrab dengan dua bersaudara ini.  Kemana pun ibunya pergi, Ridwan nggak pernah absen diajak serta. Bahkan, kemana-mana, Ridwan selalu lengket dengan Bundanya. Begitu pula saat di rumah. Segala kebutuhan Ridwan dan kakaknya selalu disiapkan Sang Bunda. Kedua bocah ini tahunya semua beres.

Lagi-lagi, kepedihan Ridwan terusik. Sang pemandu acara belajar online di TV kembali membagikan pertanyaan. Tak ketinggalan, pemandu acara meminta anak-anak peserta belajar daring mengerjakan tugas didampingi orang tua.

“Ini tugas terakhir. Silahkan dicatat dan dikerjakan. Eh...jangan lupa kalian minta bimbingan orang tuamu, ya?” pinta si pemandu acara TV.

Terang saja, Ridwan kembali tergugah tangis pedihnya. Sesekali, bocah ini mengusap air matanya. Menggunakan ujung kaos yang dikenakannya. Waduh......pokoknya, kasihan sekali lho Ridwan.

Untung, saat itu, tiba-tiba datang Sang Paman bersama anak laki-lakinya yang umurnya seusia Ridwan. “Assalamu’alaikum!!!....Wan...Ridwan...dimana kamu. Aku Fadil,” teriak kakak sepupunya itu sambil masuk ke dalam rumah.

Wa’alaikum salam,” sahut Ridwan seraya mengusap matanya yang terlihat sembab dan memerah.

Melihat Ridwan menangis sesenggukan, Fadil bergegas mendekat. Karena patuh menjalankan protokol COVID-19 dengan tetap menjaga jarak fisik, kedua bocah ini tak berani berangkulan. Meski demikian, pertemuan ini tak mengurangi keakraban di antara mereka. Akrab bangetlah, pokoknya.

Maklum, sejak Pandemi COVID-19, sudah tiga bulan lebih keduanya tidak pernah saling bertemu. Padahal, mereka sudah sangat kangen. Selama ini, mereka hanya bisa bertemu secara online lewat smartphone. Barulah setelah memasuki era kebiasaan baru (New Normal), mereka akhirnya bisa bertemu kembali secara luring.

“Ada apa to Wan kok kamu sedih. Jangan menangis terus. Kalau kamu sedih, saya juga ikut sedih, lho!!, ungkap Fadil seraya menenangkan kegundahan perasaan adik sepupunya.

“Nggak...nggak apa-apa kok, Kak Fadil. Aku hanya sedih teringat ibuku. Habis, saat aku mengikuti belajar di TV tadi, pemandunya terus minta  agar dalam belajar di rumah didampingi orang tuanya. Padahal, ibuku sudah tiada. Ayahku juga masih di Malaysia,” kata Ridwan dengan nada curhat.

“Oh...gitu toh. Saya mengerti perasaanmu, Wan. Tapi, kalau kamu terus sedih begitu, itu nggak menyelesaikan masalah. Ayolah Wan..kita doakan saja ...semoga Bunda tenang di alam sana. Kita doakan semoga Bunda mendapatkan tempat terbaik di Surga,” kata Fadil sambil mengajak Ridwan membuka bungkusan makanan yang dibawanya.

“Di luar sana juga banyak anak seusia kita yang sudah ditinggal orang tuanya. Mereka juga tetap tegar. Bahkan, banyak di antara anak-anak yang sejak kecil ditinggal orang tuanya, justru meraih kesuksesan hidup. Mereka tidak terus-terusan berada dalam kesedihan,” tambah Fadil sambil menyantap makanan.

Kedua bocah itu terlihat akrab dan lahap menyantap makanan kesukaannya. Dari kejauhan, Sang Paman terlihat gembira memandangi kedua bocah ini bersantap bareng. Ridwan yang sejak pagi diselimuti kesedihan, berbalik jadi ceria. Keceriaan semakin bertambah mencair setelah kakak kandung Ridwan ikut bergabung sepulang dari membeli aksesoris sepeda milik Ridwan.

“Wan...jika kamu kesulitan mengikuti belajar dari rumah selama Pandemi ini, nanti tak jemput. Kita belajar bareng-bareng di rumahku. Nggak usah sedih. Ayahku,,,ibuku... itu orang tuamu juga. Orang tua kita bersama,” tutur Fadil.

“Katamu, kamu pengen jadi Polisi. Kamu juga pengen jadi Youtuber. Kalau begitu, mengapa harus bersedih terus. Semangat Wan!!! Kita harus belajar giat untuk mewujudkan cita-cita itu. Kita harus bisa!!!,” tambah Fadil.

“Yaiyalah...Kak. Nggak kok..saya sudah nggak sedih lagi. Mulai saat ini saya akan kembali belajar giat. Biar ibuku di alam sana ikut bangga kalau saya nanti jadi orang sukses,” timpal Ridwan diamini Fadil.

Sejak itu, Ridwan merasa mendapatkan “amunisi” baru. Esok hari dan seterusnya, dia semakin bersemangat menjalani belajar daring. Ridwan  selalu jadi murid nomer wahid dalam mengumpulkan tugas belajar lewat Whatsapp. Gurunya selalu membalasnya dengan emoticon jempol tiga.

Rupanya, jempol tiga inilah yang juga ikut andil melecut dan mengubah jalan pikiran Ridwan. Jalan pikiran untuk selalu menjadi orang yang terdepan. Menjadi number one. Ya, meski hanya simbol jempol tiga, itu maknanya luar biasa.

Penulis Produktif Bikin Gerbong Literasi Madrasah

 

 Penulis Produktif Bikin Gerbong Literasi Madrasah

Oleh : Muhibuddin

            Dari jumlah orang yang berkumpul memang tak banyak. Belasan orang. Tapi, kebanyakan mereka sudah produktif dalam menerbitkan buku. Tak tanggung-tanggung. Buku-buku karya mereka berlabel ISBN ( International Standard Book Number). Kali ini, para writer yang kesehariannya berprofesi sebagai guru di lingkup Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Tulungagung ini ngumpul bareng untuk membikin gerbong literasi. Gerbong yang diamanati menggerakkan denyut nadi literasi madrasah di Tulungagung.

            Ngumpul secara luring dengan berprotokol kesehatan, para praktisi literasi itu terlihat nyantai. Meskipun, Student Centre MAN 1 Tulungagung yang dijadikan tempat berkumpul, sebenarnya didesain sangat formal. Suasana nyantai itu semakin bertambah gayeng, karena beberapa petinggi Kemenag yang hadir juga tidak formal dalam memberikan sambutan. Pesan-pesan yang disampaikan dalam forum ini --kalau boleh disebut forum, lho-- dikomunikasikan dengan bahasa yang penuh keakraban.

            “Semoga dengan adanya penggerak literasi ini, teman-teman yang pengen menulis buku bisa segera terbit bukunya,” seloroh Kasi Pendma (Pendidikan Madrasah) Kantor Kemenag Tulungagung, H. Suryani, M.Ag yang hadir dalam pertemuan ini.

            Demikian pula Kasi Kelembagaan Bidang Pendma Kanwil Kemenag Jatim, Dr Trianto. Dalam memberikan sambutan sekaligus sebagai nara sumber dalam pertemuan ini, lelaki yang sangat produktif menulis buku itu juga tak kalah nyantai  Bahkan, materi kepenulisan yang sebenarnya cukup “berat” pun disampaikan dengan selingan guyonan-guyonan namun tetap komunikatif.

            “Nggak susah kok menulis buku itu. Gampang. Ini beberapa kiat dalam menulis buku,” kata Trianto seraya menunjuk ke arah layar LCD yang menampilkan power point tentang trik-trik menulis buku maupun menulis di media.

            Pertemuan yang pertama kali digelar dan dihadiri belasan penulis produktif itu diinisiasi Kepala MTsN 5 Tulungagung, Drs Muh. Dopir, M.PdI dan beberapa kepala madrasah mulai MI, MTs dan MA. Targetnya, kali ini, bisa terbentuk kepengurusan komunitas penggerak literasi madrasah Tulungagung.

            “Semua yang hadir di sini merupakan penulis-penulis yang sudah punya karya dalam bentuk buku. Makanya, kami berharap, komunitas literasi ini bisa menggerakkan literasi madrasah di Tulungagung,” ujar Muh. Dopir sembari menayangkan LCD tentang judu-judul buku karya guru-guru yang hadir dalam pertemuan ini.

            Sebagai langkah awal, pertemuan yang dilaksanakan, Kamis (10/09/2020),  secara aklamasi memilih guru MAN 1 Tulungagung, Ali Maschur, S.Pd, Msi sebagai ketua. “Secepatnya mohon segera dibentuk kepengurusan, biar segera acton,” pinta Muh. Dopir.

Jumat, 20 Oktober 2017

CATATAN PENDIDIKAN



Pak Bupati, Ayo Orbitkan Inventor Cilik!
Oleh Muhibuddin

Namannya   Hanum Dzatirrajwa dan Izza Aulia Putri Purwanto. Dua pelajar SD (Sekolah Dasar) dari Jawa Tengah  ini  mampu membuat media bermain bagi anak tunanetra  melalui karyanya berjudul Snake and Ladder for Blind Children. Temuan dua inventor cilik ini berhasil menyabet medali perak kategori education and recreation, serta special award dari official technopol Moscow Rusia. Penghargaan itu diperoleh dalam ajang International Exhibition for Young Inventors (IEYI) 2017 yang berlangsung di Jepang pada 25 - 31 Juli 2017 (kompas.com, 1/8).

IEYI merupakan ajang kompetisi internasional di bidang inovasi teknologi tepat guna. Selain Indonesia, 14 negara, termasuk China, Taiwan, India, Italia, Jepang, Filipina, dan Rusia, juga ikut ambil bagian dalam kompetisi kali ini. Karena itu, kalau akhirnya pelajar Indonesia mampu membawa pulang medali dan penghargaan, itu jelas prestasi luar biasa. Tak berlebihan jika inventor-inventor yang berlaga dalam kompetisi internasional itu mendapatkan predikat pelajar hebat.

Secara kuantitas, tampaknya belum banyak pelajar --khususnya jenjang SD-- yang mampu berinovasi di bidang teknologi tepat guna. Apalagi, temuan inovatifnya mampu menembus ajang kompetisi level internasional. Namun, itu bukan berarti pelajar SD di negeri ini tidak memiliki kompetensi menjadi inventor. Percayalah, bibit-bibit inventor cilik sejatinya banyak bertebaran di pelosok tanah air. Hanya, potensi mereka kemungkinan belum tersentuh sehingga mereka tak tergoda menemukan dan membuat karya inovatif.

Terfokus Kejar Ranah Kognitif

Pertanyaannya, mengapa pelajar di jenjang SD belum begitu banyak yang menemukan dan mengorbitkan karya-karya inovatif ? Faktor usia dan perkembangan psikologis mereka tentu tak bisa dijadikan argumen pembenar minimnya inventor-inventor cilik dari jenjang SD. Faktanya, meski masih duduk di bangku SD, ternyata di antara mereka ada yang mampu membuat karya inovatif dan akhirnya meraih penghargaan level internasional sebagaimana yang dilakukan Hanum Dzatirrajwa dan Izza Aulia Putri Purwanto di atas. Ini artinya, anak SD pun mampu menjadi sang inventor.

Jika kini pelajar SD yang kurang begitu concern untuk menelorkan temuan-temuan inovatif di bidang rekayasa teknologi tepat guna, itu tentu ada pemicunya. Pertama, dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, anak-anak itu lebih memfokuskan orientasinya untuk mengejar tujuan pembelajaran ranah kognitif. Akibatnya, muara dari segala aktifitas belajar anak akhirnya hanya untuk kepentingan meraih angka-angka kuantitatif yang gemilang dalam berbagai jenis ulangan dan ujian.

Itu tidak salah. Sebab, diakui atau tidak, angka-angka gemilang dalam penguasaan ranah kognitif, selama ini masih dijadikan indikator utama untuk mengukur keberhasilan sebuah proses pembelajaran yang dilakukan peserta didik. Bahkan, kualitas pendidikan di sebuah lembaga sekolah pun masih kerap diukur indikasinya berdasarkan raihan angka-angka kualitatif ranah kognitif tersebut. Maka, kalau kemudian para pelajar kurang “bergairah” menggeluti dunia ilmiah yang bisa mengantarkan mereka menjadi sang inventor, itu merupakan imbas dari pengkondisian pembelajaran yang selama ini cenderung cognitif oriented.

Kedua, kurangnya geliat anak SD dalam menelorkan karya inovatif, jujur saja, ini merupakan imbas dari performance guru yang terlalu memosisikan perannya sebagai pengajar. Sementara, peran guru sebagai pendidik jadi terabaikan. Yang terjadi kemudian, proses pembelajaran dimaknai sekedar menstransfer konten kurikulum kepada peserta didik. Menurut Rhenald Kasali (2007), guru semacam ini disebut dengan guru kurikulum. Yaitu, sosok guru yang mengajar semata-mata hanya untuk memenuhi tuntutan kurikulum.

Implikasinya, guru cenderung abai terhadap beragamnya potensi peserta didik. Mereka tak banyak memberikan inspirasi maupun sentuhan pedagogis kepada anak didiknya. Maka, jangan kaget jika bibit-bibit inventor yang potensial, akhirnya tetap “terlelap” di bangku ruang kelas lantaran terlalu asyik duduk manis melahap konten pelajaran tuntutan kurikulum yang disampaikan para gurunya.

Ketiga, pelajar SD belum banyak menelorkan karya inovatif karena kurangya pengkondisian yang dilakukan institusi satuan pendidikan maupun pemegang otoritas yang ada di Pemda (Pemerintah Daerah). Selama ini, satuan pendidikan maupun pemegang otoritas di Pemda memang sudah banyak bergerak dalam mengkondisikan para pelajar di ajang kompetisi-kompetisi yang sudah populer semacam OSN (Olimpiade Siswa Nasional), O2SN (Olimpiade Olah Raga Siswa Nasional), maupun FLS2N ( Festifal dan Lomba Seni Siswa Nasional) dan sejenisnya.

Namun, jujur harus diakui, untuk mengorbitkan anak-anak SD yang berpotensi di bidang karya inovatif, tampaknya pengkondisian yang dilakukan satuan pendidikan maupun pemegang otoritas di daerah belum seintensif kompetisi-kompetisi yang sudah populer tersebut. Jika demikian halnya, maka sangat wajar kalau pelajar-pelajar SD kurang menggeliat dalam menelorkan karya-karya inovatif. Sebab, mereka memang kurang diinspirasi menggali ide-ide, tidak dibiasakan bereksperimen dan tidak digembleng untuk membuat temuan-temuan inovatif.

Pak Bupati....Pak Wali.....Ayo Diorbitkan!

Jika sepakat bibit-bibit inventor cilik dari sekolah dasar banyak bertebaran di berbagai pelosok negeri, ayolah mereka diorbitkan. Jangan biarkan pelajar-pelajar SD yang berpotensi menjadi sang inventor terus tiarap di bangku-bangku sekolah. Dalam konteks ini, tentu, para gurulah yang paling berperan di garda depan untuk mengorbitkan potensi anak-anak tersebut. Inventor-inventor cilik dipastikan tak bakal menggeliat jika guru-guru masih menampilkan sosok tradisionalnya sebagai guru kurikulum.

Sebaliknya, di sini diperlukan kehadiran sosok guru yang memiliki orientasi pedagogis dalam mengembangkan potensi peserta didik. Guru yang demikian, menurut Rhenald Kasali, dikategorikan sebagai guru inspiratif. Yaitu, guru yang tidak hanya mengejar tuntutan kurikulum, tetapi juga mengajak peserta didik berfikir kreatif (maximum tihinking).

Dalam bahasa Kurikulum 2013, guru demikian adalah sosok yang mampu mengintegrasikan ketrampilan abad 21 yang populer dengan istilah 4 C (Creative, Critical thinking, Communicative, Collaborative) serta mengintegrasikan HOTS (Higher Order of Thinking Skill). Yaitu, kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif dan berpikir kreatif yang merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. So, jika performance guru-guru sudah demikian, bukan mustahil inventor-inventor cilik yang semula masih “terlelap” bakal bermunculan dari berbagai SD yang ada di penjuru negeri ini.

Selain para guru yang ada di garda depan, pemegang otoritas di daerah juga berperan sangat urgen dalam menggairahkan kemunculan inventor-inventor cilik dari jenjang SD. “Pak bupati...Pak walikota...ayolah inventor cilik diorbitkan! Banyak lho...anak-anak SD yang berpotensi menjadi inventor.”

Selama ini, sudah banyak bupati/walikota di berbagai penjuru daerah yang punya kepedulian luar biasa terhadap pengembangan pendidikan. Lihatlah, betapa banyak bupati maupun walikota yang menggratiskan biaya pendidikan untuk peserta didik. Tak sedikit bupati atau walikota yang memberikan secara cuma-cuma seragam sekolah hingga menggelontorkan aneka fasilitas pendidikan yang diperlukan peserta didik.

Upaya positif ini tentu akan lebih elegan lagi manakala diperluas pada ranah pengembangan potensi kualitatif anak didik. Salah satunya adalah “memoles” anak-anak di jenjang sekolah dasar yang punya potensi untuk diorbitkan menjadi inventor cilik. Ini tentu membutuhkan sentuhan khusus. Karena itu, sudah selayaknya bupati/walikota “turun gunung” ikut membesarkan bibit-bibit inventor yang ada di daerahnya.

Caranya tentu sangat banyak. Di antaranya, memberikan semacam pelatihan maupun workshop membuat karya inovatif untuk anak-anak SD bekerjasama dengan ahli-ahli dari perguruan tinggi maupun LIPI (lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) yang selama ini banyak mengorbitkan inventor-inventor remaja. Kegiatan ini bisa disentralkan dalam satu wadah di level kabupaten/kota. Atau, bisa pula dibikin gugus-gugus di beberapa wilayah kecamatan yang dijadikan sentral kegiatan karya inovatif siswa.

Pelatihan ini kemudian ditindaklanjuti dengan menggelar kompetisi karya inovatif yang sifatnya berjenjang dari tingkat satuan pendidikan hingga tingkat kabupaten/kota. Dari sisi anggaran, kegiatan semacam ini barangkali tidak terlalu menyedot duit yang besar. Jika para bupati/walikota memang mempunyai komitmen yang tinggi, hal itu bukanlah perkara yang rumit. Mungkin, ini memang terlalu teknis dijadikan kebijakan seorang kepala daerah.

Tak apalah jika upaya ini dinilai tidak populis. Tapi, dalam jangka panjang, kebijakan teknis semacam ini merupakan investasi. Ya, investasi mengorbitkan inventor-inventor cilik.  Ini bagian dari strategi dan upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya di jenjang pendidikan SD. Siapa tahu, dengan strategi yang demikian bakal muncul “one school one inventor”, Jika ini yang terjadi, imbasnya jelas sangat positif dalam mendongkrak kualitas pendidikan. Semoga!

Sabtu, 13 Desember 2014

CATATAN PENDIDIKAN



Mengkhawatirkan Salah Start Kurikulum 2013
Oleh Muhibuddin

Ketika bendera start kurikulum 2013 dikibarkan, satu hal yang terbayang adalah terjadinya perubahan besar-besaran dalam proses pembelajaran. Guru-guru segera meninggalkan kebiasaan lama mengajar menggunakan metode ceramah yang menafikan peran sentral siswa. Sebaliknya, mereka bergegas merevolusi pembelajaran dengan memfasilitasi siswa untuk aktif mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyaji dan mencipta.

Dengan demikian, format pembelajaran dalam kurikulum 2013 cenderung mengarah pada penerapan pendekatan ilmiah (scientific approach) melalui proses belajar mengajar berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning) dan pemecahan masalah (project based learning). Ini artinya, arah bidik kegiatan belajar mengajar lebih memberikan titik tekan pada proses “mencari tahu” ketimbang  proses “memberi tahu”.

Konsekuensi logisnya, tata cara penilaian mesti ikut dirombak mengiringi irama perubahan paradigma pembelajaran. Jika selama ini para guru melakukan penilaian hasil belajar cukup  lewat paper and pencil test, hal itu jelas tak relevan lagi. Sebab, standar penilaian kurikulum 2013 menuntut penilaian total terhadap proses maupun hasil belajar yang mencakup ranah afektif, kognitif  dan psikomotorik.

Dalam konteks ini, prosedur penilaian yang pas tentu model authentic asessment. Penilaian autentik merupakan proses evaluasi untuk mengukur kinerja, prestasi, motivasi serta sikap peserta didik pada aktifitas pembelajaran. Bentuk penilaian autentik bisa berupa penilaian kinerja, penilaian proyek, penilaian portofolio dan penilaian tertulis.

Ya, para guru harusnya memang merevolusi proses pembelajaran berikut prosedur penilaiannya ketika menjalankan kurikulum 2013. Itu karena, dua komponen tersebut merupakan bagian substansial yang dibenahi lewat kurikulum 2013. Jika guru tetap mempertahankan proses pembelajaran dan penilaian gaya lama, itu jelas tidak sejalan dengan tuntutan kurikulum 2013.

Di luar itu, kurikulum 2013 juga menghadirkan nuansa baru dalam pembelajaran yang berbeda dengan kurikulum sebelumnya. Di kelas 1 sampai kelas 3 SD/MI, misalnya. Pembelajaran tak lagi diberikan by subject tetapi menerapkan pendekatan tematik-integratif. Pada bagian lain, interaksi belajar-mengajar akan menampakkan suasana berbeda karena konten pembelajaran dikendalikan lewat penggunaan buku panduan guru  dan buku pegangan siswa.

Berpeluang Salah Start

Kini, kurikulum 2013 sudah mulai digulirkan di satuan pendidikan yang jumlahnya lebih dari 6.300 sekolah. Di masa awal perjalanannya, implementasi kurikulum 2013, tampaknya cukup berpeluang diwarnai terjadinya tindakan salah start. Yakni, tindakan di awal pelaksanaan kurikulum yang praktiknya tidak sejalan dengan ketentuan-ketentuan yang distandarkan.

Celah munculnya salah start itu, di antaranya terkait penerapan paradigma baru dalam standar proses pembelajaran. Yang dikhawatirkan, implementasi pembelajaran berbasis scientific approach sebagaimana tuntutan kurikulum 2013, praktiknya tidak diikuti perubahan mindset guru tentang pembelajaran secara total.

Yang terjadi kemudian, sangat mungkin para guru akhirnya balik kucing menjalankan pemb elajaran gaya lama : berceramah sepanjang mengajar dengan memosisikan siswa secara pasif layaknya botol kosong yang siap diisi air.

Ini jelas sebuah tindakan salah start yang tak bisa dibiarkan menggelinding mewarnai kegiatan instruksional. Sebab, imbas dari tindakan salah start ini justru mengganjal tercapainya misi ideal kurikulum 2013. Bagaimanapun, harapan manis untuk mengentaskan keterpurukan pendidikan yang ditawarkan lewat kurikuulum 2013, penentu akhirnya sangat bergantung pada standar proses pembelajaran yang dikelola guru di depan kelas.

Kekhawatiran terjadinya tindakan salah start  semacam ini, bukan sesuatu yang mengada-ada. Marilah memutar kembali pengalaman saat menjalani beberapa kali perubahan kurikulum. Ketika diberlakukan kurikulum 1984, misalnya. Kala itu, getol “dikampanyekan” paradigma pembelajaran yang ngetop disebut cara belajar siswa aktif (CBSA) dengan pendekatan ketrampilan proses.

Pembelajaran berlabel CBSA digulirkan untuk menggantikan pendekatan pembelajaran berbasis duduk, dengar, catat dan hafal (DDCH) yang sudah mengakar kuat dalam sistem instruksional di lembaga persekolahan. Dalam perjalanannya, pembelajaran ala CBSA tampaknya tidak otomatis mengubah mindset guru secara total.

Faktanya, hingga digulirkannya kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), mindset mengajar gaya lama disinyalir masih bercokol di kalangan para guru. Itu sebabnya, pemahaman seputar filosofi pembelajaran kembali dielaborasi lewat standar proses KTSP. Dari sini, KTSP kemudian memunculkan pendekatan baru pembelajaran berbasis ekspolorasi,elaborasi dan konfirmasi.

Berubahkah pola pikir guru tentang pembelajaran selama menjalankan KTSP? Yang jelas, para guru jadi familier menerapkan kegiatan instruksional melalui berbagai model pembelajaran. Kendati demikian, tidak berarti pola pikir guru sudah berubah total mengikuti tuntutan standar proses KTSP.

Buktinya, ketika dimunculkan kurikulum 2013, penyempurnaan pola pikir guru masih dipandang urgen sehingga dijadikan salah satu rasional yang mendasari pengembangan kurikulum tersebut. Ini maknanya, perubahan mindset guru tentang pembelajaran hingga kini masih menyisakan persoalan serius.

Berkaca dari rangkaian pengalaman ini terlihat bahwa merubah mindset guru tentang pembelajaran bukan perkara gampang. Hampir tiga dasa warsa, upaya merubah pola pikir guru tersebut dukumandangkan. Namun, realitasnya, pembelajaran gaya lama belum juga ditinggalkan dari panggung pembelajaran.

Karenanya, wajar jika di awal perjalanan kurikulum 2013, muncul kekhawatiran terjadinya salah start dalam mengimplementasikan standar proses pembelajaran. Jangan-jangan, perubahan paradigma pembelajaran yang dikehendaki kurikulum 2013, ending-nya setali tiga uang dengan pengalaman saat menjalani beberapa kali pergantian kurikulum. 

Peluang salah start yang lain terkait dengan penggunaan buku panduan guru dan buku pegangan siswa. Yang dikhawatirkan,  kebijakan ini praktiknya diterjemahkan secara salah kaprah dengan memosisikan buku-buku tersebut sebagai satu-satunya sumber belajar. Jadinya, keberadaan buku-buku  yang disediakan pemerintah ini diperlakukan bagai “kitab suci”.

Implikasinya, orientasi pembelajaran akhirnya tersederhanakan hanya untuk melalap habis cakupan isi yang tertuang dalam buku-buku pegangan. Dengan demikian, interaksi belajar mengajar bisa mati gaya karena berada dalam jeratan sandera buku-buku yang menjadi pegangan utama dalam pembelajaran.

Hal ini jelas memberikan efek samping yang berbahaya. Pasalnya, substansi pembelajaran bisa menutup peluang terjadinya eksplorasi pengetahuan lewat pemanfaatan sumber-sumber belajar yang lain. Padahal, pembelajaran yang dikehendaki kurikulum 2013, seharusnya mengarah pada pendayagunaan berbagai sumber belajar (resources based learning) melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.

Alhasil, peluang terjadinya salah start harus dicegah ketika perjalanan kurikulum 2013  masih memasuki masa-masa awal. Dalam kaitan ini, perjalanan kurikulum 2013 butuh pengawalan melalui berbagai kegiatan pendampingan. Di sisi lain, rasional dan “suasana kebatinan” yang mendasari pergantian kurikulum harus benar-benar terinternalisasi di benak para guru sehingga misi ideal kurikulum baru tersebut menjiwai setiap tindakan pembelajaran. Semoga.
*Dimuat di Majalah MPA Januari 2014