Minggu, 13 September 2020

CERPEN

 

Emoticon Jempol Tiga

Oleh : Muhibuddin

 

Cahaya sinar matahari  mulai menyorot ke dalam rumah. Lewat jendela dan lubang-lubang dinding. Sorot sinarnya memancar indah. Terlihat alami. Menggantikan terangnya cahaya listrik.  Di halaman rumah, ayam-ayam  piaraan sudah berkeliaran. Kakinya mencakari tanah. Paruhnya memangsa  rerumputan yang masih terbasahi embun.  Di jalan aspal depan rumah, lalu lalang kendaraan bermotor  sudah ramai berseliweran.

Namun, Ridwan masih saja betah berada dalam rumah. Mengenakan kaos yang dipakai saat tidur semalam,  dia duduk sendirian. Di atas karpet. Depan pesawat TV bertabung besar. Tangannya sibuk memenceti tombol HP. Nggak tahu. Dia lagi main game atau membuka layar  youtube. Atau, bisa jadi, bocah itu lagi mengintip tugas sekolah. Tugas daring dari Sang Guru yang dikirim lewat group Whatsapp .

Sesekali, matanya menengok ke arah jam dinding. Jarum panjang berada di angka enam. Sedang jarum pendek persis di antara angka delapan dan sembilan. Bergegas, Ridwan mengambil buku tulis, penghapus dan pensil yang panjangnya tinggal sepuluh centimeter.  Gak pake’ lama, dia kembali duduk. HP-nya ditaruh disampingnya. Ganti menonton TV. Mengikuti belajar daring. Kebiasaan baru anak sekolah di masa Pendemi COVID-19.

“Nah, adek-adek sekarang waktunya menjawab pertanyaan. Siap-siap mencatat ya? Nanti jawablah pertanyaan ini sebagai tugas di rumah. Kerjakan pertanyaan dengan bimbingan guru atau orang tuamu,” begitu suara merdu wanita pemandu acara di TV. Meminta anak-anak yang sedang menonton mencatat tugas belajar di rumah.

Mendengar itu, Ridwan tertegun sedih. Ini nggak biasanya, lho!!!. Asal tahu saja, selama tiga bulan belajar online dari rumah lewat tayangan TV, dia selalu riang. Nggak pernah mengeluh. Nggak pernah menggerutu. Bahkan, tugas-tugas belajar jarak jauh selama masa pandemi,  semuanya diselesaikan dengan cepat dan lancar. Tak ada keluhan sama sekali. Kecuali sesekali mengeluhkan borosnya paket data internet.

Tapi hari ini keadaannya benar-benar berbeda. Berbalik seratus delapan puluh derajat. Raut wajahnya menyiratkan kepedihan. Gairah belajarnya ambyar. Tidak fokus. Sampai-sampai, dia nggak sadar ketika pensil yang ada di jepitan jari tangannya lepas. Klothak!!! Pensil yang ujung rautannya sudah bundel itu jatuh di porselin. Pensil itu dibiarkan menggelinding. Tidak segera diambil kembali.

“Kalau saja...ya kalau saja ibuku masih hidup...aku tak akan menjalani belajar dari rumah kayak gini. Ibuku pasti menemani sampai aku selesai belajar. Kayak yang dialami teman-temanku. Mereka menyetorkan tugas sekolah disertai fotonya bareng ibu atau ayahnya. Sedangakan aku....,” begitu gejolak batin Ridwan.

Tanpa sadar, air mata Ridwan menetes membasahi pipi. Kepedihannya semakin bertambah ketika pemandu acara belajar daring di TV kembali menyampaikan tugas. “Kerjakan pertanyaan ini sebagai tugas belajarmu. Jangan lupa minta bimbingan orang tuamu,” lagi-lagi pemandu acara belajar daring di TV menyarankan anak-anak meminta bantuan orang tuanya.

Spontan, kepedihan Ridwan kian menjadi-jadi. Dia tak kuasa membendung air matanya. Menangis sesenggukan seorang diri. Pikirannya teringat kehangatan Sang Ibu kala masih hidup bersamanya. Di saat Pandemi COVID-19 yang mengharuskan setiap orang menjalankan protokol DI RUMAH SAJA, dia sama sekali nggak bisa merasakan kegiatan di rumah bersama ibu dan ayahnya.

“ Huk...huk...huk...,” Ridwan menangis pilu teringat bunda tercintanya.

Ya, sejak tiga tahun lalu, Ridwan yang kini duduk di kelas 5 SD, memang ditinggal ibunya untuk selama-lamanya. Ibunya meninggal dunia karena sakit. Sejak itu, bocah berperawakan kerempeng ini sehari-hari hidup bersama kakak laki-lakinya. Kakaknya juga masih belum dewasa. Baru naik kelas 2 SMA. Sedangkan Sang Ayah, saat ini tengah merantau. Mengadu nasib menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di negeri Jiran, Malaysia.

Ketika masih hidup, ibunya begitu dekat dan akrab dengan dua bersaudara ini.  Kemana pun ibunya pergi, Ridwan nggak pernah absen diajak serta. Bahkan, kemana-mana, Ridwan selalu lengket dengan Bundanya. Begitu pula saat di rumah. Segala kebutuhan Ridwan dan kakaknya selalu disiapkan Sang Bunda. Kedua bocah ini tahunya semua beres.

Lagi-lagi, kepedihan Ridwan terusik. Sang pemandu acara belajar online di TV kembali membagikan pertanyaan. Tak ketinggalan, pemandu acara meminta anak-anak peserta belajar daring mengerjakan tugas didampingi orang tua.

“Ini tugas terakhir. Silahkan dicatat dan dikerjakan. Eh...jangan lupa kalian minta bimbingan orang tuamu, ya?” pinta si pemandu acara TV.

Terang saja, Ridwan kembali tergugah tangis pedihnya. Sesekali, bocah ini mengusap air matanya. Menggunakan ujung kaos yang dikenakannya. Waduh......pokoknya, kasihan sekali lho Ridwan.

Untung, saat itu, tiba-tiba datang Sang Paman bersama anak laki-lakinya yang umurnya seusia Ridwan. “Assalamu’alaikum!!!....Wan...Ridwan...dimana kamu. Aku Fadil,” teriak kakak sepupunya itu sambil masuk ke dalam rumah.

Wa’alaikum salam,” sahut Ridwan seraya mengusap matanya yang terlihat sembab dan memerah.

Melihat Ridwan menangis sesenggukan, Fadil bergegas mendekat. Karena patuh menjalankan protokol COVID-19 dengan tetap menjaga jarak fisik, kedua bocah ini tak berani berangkulan. Meski demikian, pertemuan ini tak mengurangi keakraban di antara mereka. Akrab bangetlah, pokoknya.

Maklum, sejak Pandemi COVID-19, sudah tiga bulan lebih keduanya tidak pernah saling bertemu. Padahal, mereka sudah sangat kangen. Selama ini, mereka hanya bisa bertemu secara online lewat smartphone. Barulah setelah memasuki era kebiasaan baru (New Normal), mereka akhirnya bisa bertemu kembali secara luring.

“Ada apa to Wan kok kamu sedih. Jangan menangis terus. Kalau kamu sedih, saya juga ikut sedih, lho!!, ungkap Fadil seraya menenangkan kegundahan perasaan adik sepupunya.

“Nggak...nggak apa-apa kok, Kak Fadil. Aku hanya sedih teringat ibuku. Habis, saat aku mengikuti belajar di TV tadi, pemandunya terus minta  agar dalam belajar di rumah didampingi orang tuanya. Padahal, ibuku sudah tiada. Ayahku juga masih di Malaysia,” kata Ridwan dengan nada curhat.

“Oh...gitu toh. Saya mengerti perasaanmu, Wan. Tapi, kalau kamu terus sedih begitu, itu nggak menyelesaikan masalah. Ayolah Wan..kita doakan saja ...semoga Bunda tenang di alam sana. Kita doakan semoga Bunda mendapatkan tempat terbaik di Surga,” kata Fadil sambil mengajak Ridwan membuka bungkusan makanan yang dibawanya.

“Di luar sana juga banyak anak seusia kita yang sudah ditinggal orang tuanya. Mereka juga tetap tegar. Bahkan, banyak di antara anak-anak yang sejak kecil ditinggal orang tuanya, justru meraih kesuksesan hidup. Mereka tidak terus-terusan berada dalam kesedihan,” tambah Fadil sambil menyantap makanan.

Kedua bocah itu terlihat akrab dan lahap menyantap makanan kesukaannya. Dari kejauhan, Sang Paman terlihat gembira memandangi kedua bocah ini bersantap bareng. Ridwan yang sejak pagi diselimuti kesedihan, berbalik jadi ceria. Keceriaan semakin bertambah mencair setelah kakak kandung Ridwan ikut bergabung sepulang dari membeli aksesoris sepeda milik Ridwan.

“Wan...jika kamu kesulitan mengikuti belajar dari rumah selama Pandemi ini, nanti tak jemput. Kita belajar bareng-bareng di rumahku. Nggak usah sedih. Ayahku,,,ibuku... itu orang tuamu juga. Orang tua kita bersama,” tutur Fadil.

“Katamu, kamu pengen jadi Polisi. Kamu juga pengen jadi Youtuber. Kalau begitu, mengapa harus bersedih terus. Semangat Wan!!! Kita harus belajar giat untuk mewujudkan cita-cita itu. Kita harus bisa!!!,” tambah Fadil.

“Yaiyalah...Kak. Nggak kok..saya sudah nggak sedih lagi. Mulai saat ini saya akan kembali belajar giat. Biar ibuku di alam sana ikut bangga kalau saya nanti jadi orang sukses,” timpal Ridwan diamini Fadil.

Sejak itu, Ridwan merasa mendapatkan “amunisi” baru. Esok hari dan seterusnya, dia semakin bersemangat menjalani belajar daring. Ridwan  selalu jadi murid nomer wahid dalam mengumpulkan tugas belajar lewat Whatsapp. Gurunya selalu membalasnya dengan emoticon jempol tiga.

Rupanya, jempol tiga inilah yang juga ikut andil melecut dan mengubah jalan pikiran Ridwan. Jalan pikiran untuk selalu menjadi orang yang terdepan. Menjadi number one. Ya, meski hanya simbol jempol tiga, itu maknanya luar biasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar